JANGGAL! Sungguh janggal. Sebuah gubuk kumuh terbuat dari bilik sepuh, bambu rapuh dan beratapkan jerami penuh itu kini dihuni oleh seorang wanita berpakaian lusuh, paruh baya, separuh kebaya, separuh kulit buaya. Sudah hampir tiga hari ia tinggal sendiri di tengah-tengah hutan yang sunyi dan sepi, tidak ada kehidupan lain selain serangga yang tak hingga, burung-burung yang murung dan ular yang melingkar.
Masyarakat kampung Cikatulah yang paling dekat dengan hutan itu begitu resah. pasalnya, walaupun dia seorang wanita yang menjaga auratnya dengan hijab rapi dan akhlaq qur`ani, namun ia tengah berbadan dua saat ini. Benar, gubuk reyot yang dibuat sebagai tempat peristirahatan bagi para pekerja penebang pohon di hutan itu kini didiami oleh Ibu Sukali yang saat ini sedang mengandung enam bulan lebih. Memang tidaklah pantas dipanggil Ibu, karena ia masih muda belia, dua puluh dua tahun ia mengaku pada Pak Lurah kampung Cikatulah yang menjadi penanggung jawab wilayah hutan itu. Namun karena sedang hamil, akhirnya ia pun dipanggil ibu.
“Assalamu`alaikum bu dan bukan pak!”
“Wa`alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh! Bapak teh Lurah yang bertanggung jawab atas hutan ini ya, pak?” Tanya Bu Sukali pada pak Lurah Cikatulah yang tampak terpesona menatap kecantikan wajah dan muka Bu sukali. Setelah lima menit Pak Lurah menganga, akhirnya salah satu pekerja penebang pohon yang memanggil Pak Lurah pun menepuk ujung lututnya.
“Ah iya, nama saya Pak Hamugede Tibatiba, tapi eneng boleh memanggil Kang Gede dan bukan Nyai Gede! Maksud kedatangan akang ini mau bertanya, siapakah eneng dan bukan ujang?”
“Iya, sebelumnya sayah teh mau minta maaf, soalnya sayah teh sudah merepotkan bapak-bapak atas ketidakjelasan keberadaan sayah disini. Perkenalkan, nama lengkap sayah teh Sukali Hatlihat, Panggil sajah Bu Sukali atau boleh disingkat Bu Suk atau Bu Ka atau Bu Li, terserah bapak-bapak itu mah. Begini pak, sayah ini teh orang perantauan, tidak punya rumah dan keluarga di pulau Cilukba inih. Sekiranya Pak Lurah bisa mengizinkan sayah tinggal disinih sampai anak sayah lahir, sayah mah pastinya akan sangat berterima kasih sekali atuh.”
“Hmm, Saya sebenarnya tidak keberatan dan saya merasa keringanan jika Eneng tinggal di gubuk ini dan bukan ubuk itu. Bahhhkan… jika ada rumah kosong di kampung, saya akan dengan senang hati mengizinkan eneng tinggal disana dan bukan disini hingga melahirkan atau mungkin… sampai mendapat suami yang bersedia menjadi ayah dari anakmu nanti dan bukan anakmu dulu. ehm”
Begitulah Pak Lurah, empat puluh tujuh tahun dengan pakaian tuxedo pink dengan dasi kupu-kupu dipasang secara vertikal, kopiah miring, jenggot zigzag berwarna abu kekuning-kuningan yang menyatu dengan jambang kirinya saja dan kumis tebal yang memenuhi lubang hidung kanannya saja. Ia menyampaikan pernyataannya itu dengan genit sambil mengedip-ngedipkan mata kirinya dan mengendap-endapkan mata kanannya.
Awalnya Bu Sukali memang masuk dan tinggal disana tanpa izin karena dianggap gubuk liar tak berpenghuni, dia diadukan oleh ketua kelompok penebang pohon yang biasa mangkal untuk istirahat dan tidur disana, Kongkong. Sesaat pak Lurah hendak mengusir Bu Sukali dari gubuk itu, niatnya berubah sekilat tanpa pikir panjang kali lebar kali tinggi gara-gara melihat kecantikan alami elok rupawati yang dipancarkan bertubi-tubi oleh Bu Sukali.
“Hei penebang hutan!! Apa kalian tidak merasa kasihan melihat wanita hamil ini dan bukan hamil itu? Dia tidak punya tempat tinggal! Masa harus berkeliaran beralaskan kaki dan beratapkan kerudung? Berikan alasan konkrit agar saya harus mengusirnya dari tempat ini dan bukan bukan tempat itu?”
“Begini kan Pak Lurah! Sebenarnya kan saya juga tidak setuju mengadukan persoalan ini kepada Pak Lurah, awalnya kan malah saya berpendapat kalaulah ada yang mau menampung si Eneng di kampung kan lebih bagus. Dari pada di hutan begini sendirian kan bahaya, takutnya terjadi hal yang tidak-tidak kan kampung ini juga yang kena imbasnya! Kan?” Jawab salah seorang penebang hutan berperawakan kurus berkulit hitam legam seperti arang yang tersembunyi di bawah bayang-bayang tengah malam yang juga terlihat suka pada Bu Sukali. Badannya kecil tapi pakaiannya berukuran XXL yang kusut dan kotor. Sekedar info, dia satu-satunya pekerja yang masih lajang loh. Hehe.
“Diam ente Sasagon!! Kenape pendapat ente langsung berubah gitu? Padahal kite kan udeh sepakat dengan masalah nyang bisa muncul nantinye! Gini Pak Lureh! Awalnye ane juga berpendapat same kaye nyang tadi Sasagon bilang! Tapi kesini-kesini kite mikir-mikir lagi, Ibu ini kan lagi hamil dan bukan penduduk asli kampung kite. Pegimane pendapat orang-orang luar kampung tentang hal ini? Bisa-bisa kite-kite yang malah dituduh nyembunyiin kejahatan nantinye!” Tegas Bang Kongkong sang ketua kelompok penebang hutan yang memiliki tubuh bulat pipih dengan perut berlipat-lipat dan berkulit lebam tersekat-sekat seperti daging ayam yang terlalu lama direbus dan disikat.
Kesembilan orang penebang pohon anak buah Kongkong pun langsung berisik berbisik-bisik dibelakang saling membicarakan situasi buruk yang sekiranya bisa menimpa nama baik kampung mereka jika mereka mengizinkan Bu Sukali tinggal disana. Ada yang mukanya terlihat serius sampai mulutnya maju mundur, ada yang telinganya melambai-lambai cuma ikut nguping doank, ada juga yang keliling-keliling menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi disana tapi tidak ada yang memperdulikannya sama sekali. Maka Pak Lurah pun angkat bicara.
“Oke, oke perhatian semuanya! Begini dan bukan begitu, setelah melihat keadaan ini secara teliti, saya memutuskan untuk melaporkan kasus ini ke kantor Bupati dan bukan kantor Pakpati, sehingga meminimalisir kesalahpahaman yang mungkin akan timbul di hari yang akan datang dan bukan hari yang akan pergi. Saya sebagai Pak Lurah kampung Cikatulah dengan ikhlas hati mengizinkan Bu Sukali tinggal disini hingga anaknya dilahirkan atau boleh juga diperpanjang hingga ia mendapat suami yang bersedia bersanding dengannya dan bukan denganmu!”
Bang Kongkong menelan ludahnya sepuluh kali ketika Pak Lurah dengan percaya diri mengambil keputusan secara sepihak itu sambil menepuk-nepuk punggungnya dengan tuas kakinya. Padahal pak lurah sendiri belum tahu asal usul Bu Sukali dan siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Tapi, dalam hatinya yang paling dalam dia juga sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan semua hal itu, karena ternyata Kongkong juga menaruh hati pada Bu Sukali. Tapi, ada satu hal yang masih mengganjal dalam benaknya, Kongkong pun langsung mengajukan pernyataan.
“Tapi Pak!”
“Tidak ada tapi-tapian!”
“Namun Pak!”
“Tidak ada namun-namunan juga!”
“Kalau melainkan ada ga, pak?”
“Hmmm oke, kalo melainkan ada aja deh!”
“Melainkan sape nyang mau tanggung jawab same keadaan eneng nyang kaga punye keluarga selame tinggal disini? Gubuk ini lumayan jauh dari kampung kite, apa eneng ini bisa tahan ngurus dirinye sendiri disini? Kalo terjadi sesuatu yang buruk, apalagi si eneng ini lagi hamil, bapak sebagai Lureh nantinye nyang repot sendiri loh!”
“Wah benar juga Kong! Gimana ya? Oke, begini saja dan bukan begitu saja, nanti saya akan berkeliling kampung mencari-cari siapa tau ada yang bersedia membagi rezeki dan kamar dirumahnya dan bukan dirumahmu!”
Tanpa pikir panjang kali lebar, kesepuluh penebang pohon itu pun mengacungkan kedua tangan mereka dan serentak secara bersama-sama menyambut bahagia dengan berteriak penuh rasa percaya diri.
“DI RUMAH SAYA SAJA PAK!!”
“….??”
Pak Lurah langsung kebingungan, terlihat setetes keringat jatuh dari belakang kopiah miringnya. Tiba-tiba, muncullah bisikan-bisikan niat mengalir perlahan dari titik nadinya melewati urat-urat syaraf menuju hatinya hingga lepas landas menuju pankreas, niat itu berteriak kencang dari dalam hati pak lurah dengan mengacungkan dan mengibar-ngibarkan bendera bertuliskan “KAMU BISA!” memberi semangat agar ia meminta izin kepada istrinya yang galak geliak untuk mengizinkan Bu Sukali tinggal sebagai pembantu di rumah mereka. Tapi, sesaat sebelum Pak Lurah akan mengemukakan niatnya itu, terlebih dahulu Bu Sukali memaparkan pendapatnya.
“Alhamdulillah, terima kasih pisan atas kebaikan bapak-bapak sekalian, Sayah mah tidak ingin merepotkan lebih banyak lagih. Tinggal di gubuk ini hingga anak sayah lahir pun sayah mah sudah merasa sangat terbantu sekali. Mungkin supaya sayah bisa membalas kebaikan bapak-bapak penebang pohon yang bersedia meminjamkan gubuk inih sebagai tempat tinggal sayah, bagaimana kalau sayah ikut bantu-bantu membuatkan makanan dan menyediakan minuman? Jadi nanti bapak-bapak teh bisa lebih maksimal beristirahat disinih!”
Serentak para penebang hutang mengacungkan kedua jempol tangan mereka menghadap Bu Sukali dan kedua jempol kaki menghadap Pak Lurah seraya berteriak bersama-sama kembali sambil menahan tetesan air mata penuh makna sebuah kebahagiaan.
“SEPAKAT!!”
Pak Lurah terdiam melihat keadaan itu, niatnya menjadikan Bu Sukali sebagai pembantu dirumah pun kandas tersapu ombak dan karam ke dasar lautan, Bendera yang berkibar dalam hatinya berubah menjadi jemuran basah yang tak kunjung kering. Lalu dengan sedikit nada protes Pak Lurah berkata pada Bang Kongkong.
“Ta-tapi Kong!”
“Tidak ada tapi-tapian!”
“Namun Kong!”
“Tidak ada namun-namunan!”
“Melainkan??”
“Tidak ada melainkan juga!”
“Yah? Terus yang ada apa donk?”
“Ane tau ape yang mau bapak bilang! Gini aje, ntar dari setiap kite nih termasuk Pak Lureh bawain bahan makanan dan nyediain alat masak. Jadi, kite ntar ga perlu bawa bekal dari rumah buat makan siang dan sore. Bu Sukali bisa masak buat kite-kite dan juga untuk Bu Sukali sendiri. Ya anggep aje sebagai gaji. Dengan begini kan kite bisa ngeringanin beban ibu dan istri kite di rumah yang tiap subuh kudu bangun nyiapin bekal buat kite yang biasa berangkat pagi buta dan pulang petang tuli. Gimane pendapat Bu Sukali?”
“Kalau menurut bapak-bapak itu teh baik dan tidak memberatkan, karena bapak-bapak yang lebih tau kondisi disinih, sayah mah akan sangat berterima kasih dan akan membantu semaksimal mungkin sekemampuan sayah, Insya Allah”
“Oke! Sip Gimane wahai anak buahku? Ente pade setuju semue kan dengan pendapat ane tadi?”
Kesembilan anak buah Kongkong pun menjawab dengan penuh keceriaan tiada tara yang tidak bisa ditahan-tahan lagi. Dengan penuh gereget seperti orang yang sudah lama menahan kebelet, mereka bersorak-sorai meneriakan kebahagiaan mereka.
“Setuju banget…! Ay lop yu Bang Kongkong! Yu ar may hart! Yu now mi sowwelll…!”
Kongkong pun diangkat dan dilempar-lemparkan kearah langit oleh kesembilan anak buahnya sekitar 10 meter dari permukaan tanah, berulang-ulang terus, hingga perutnya yang berlipat-lipat itu berkibar dan bergelombang seperti ombak ditepi pantai, kini ia menjadi seorang pahlawan pemberi mata air dikala tandusnya harapan. Naon sih.
“Hehe… Sape dulu donk! Kongkong gitu loh! Kalo gitu ayo kite kembali kerja, besok kite mulai bawa noh bahan dan alat masaknye ye! Pak Lureh terima kasih banyak atas laporannye nanti sama Pak Bupati, Wassalamu`alaikum!”
“Eh, euuu ya, em.. Wa`alaikumussalam!”
Dengan tidak dimintai pendapat, Pak Lurah hanya bisa menjawab salam dan ditinggalkan begitu saja. Terlihat kesepuluh penebang pohon itu pergi meninggalkan gubuk menuju tempat kerjanya dengan saling bergandengan sikut, kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki, mereka berjalan melompat-lompat melangkahkan kakinya secara bergantian, sambil menyanyikan lagu Nina dodol dan hilang sepatu hilang. Kini, tinggal lah Pak Lurah dan Bu Sukali di depan gubuk, tatkala jasad dan suara nyanyian para penebang pohon itu raib dari pandangan dan pendengaran, Pak Lurah pun memulai pembicaraan kembali.
“Ja-jadi…!”
“Tidak ada jadi-jadian!”
“He?? Lalu…!”
“Tidak ada lalu-laluan!”
“Aduh! Ya sudah kalau begitu dan bukan begini, Saya pamit pulang dan bukan pergi, insya Allah besok akan saya laporkan masalah ini ke kantor Bupati. Tapi, ngomong-ngomong untuk malam ini apa eneng ada makanan? Punya baju ganti kan? Kalau tidak ada, nanti saya coba pinjamkan punya istri saya dan bukan istri kamu, yaa walaupun ukurannya empat kali lipat lebih lebar daripada ukuran wanita hamil!”
“Hehe, bapak mah ada-ada ajah! Memangnya pakaian istri Pak Lurah teh seprei kasur? Tidak usah repot-repot, pak! Sayah mah tadi dikasih singkong rebus sama Pak Sasagon. Sayah juga punya beberapa pakaian ganti kok! Sayah mah hanya bisa berucap jutaan rasa terima kasih buat Pak Lurah yang sudah mau berusaha dan mengizinkan saya tinggal sementara disinih, insya Allah sayah akan menjaga diri dan tidak berbuat hal buruk.”
Begitulah awal mula Bu Sukali diterima keberadaannya di hutan beberapa kilometer dari kampung Cikatulah yang kebanyakan masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani dan peternak.
Dua bulan Bu Sukali tinggal di gubuk, semakin banyak gosip tidak enak tersebar di kampung. Dari mulai Pak Lurah yang dituduh menyembunyikan istri simpanan yang tengah hamil hingga desas-desus paling buruk adalah berita tentang Bu Sukali sang pelacur bagi para penebang pohon. Meskipun Pak Lurah, para penebang pohon dan Bu Sukali sendiri sudah mati-matian menjelaskan dan membela diri, namun para istri dan masyarakat yang benci akan keberadaan Bu Sukali itu terus menjelek-jelekan bahkan mengarang cerita biadab tentang Bu Sukali yang sebatang kara, eh sebatang manusia itu.
Gara-gara cemburu melihat anak-anak dan suaminya sering terlihat senang serta memuji cerita-cerita dan masakan Bu Sukali yang nikmatnya tidak kalah dengan restoran berbintang tamu, bahkan para penebang pohon ternyata lebih betah lama di hutan dibanding tinggal dirumahnya sendiri, sempat suatu hari beberapa ibu dan istri para penebang hutan, dipimpin oleh Bu Lurah yang bernama Ibu Lunya Indah mendatangi dan menyeret Bu Sukali yang perutnya sudah lebih besar dari pada kepalanya untuk pergi dari tempat itu. Bahkan gubuk itu hampir mereka bakar, untunglah para penebang hutan tiba dan menenangkan situasi itu.
Setelah kejadian itu, semakin banyak masyarakat yang penasaran. Mereka seolah-olah tidak sengaja mampir lewat ke gubuknya untuk menengok dan mengintip Bu Sukali yang terlihat sedang sibuk memasak dan menyiapkan makanan. Pemandangan ketika ia memasak begitu indah, terlihat penuh ikhlas. Dimulai dari cara bagaimana ia tersenyum kecil sesaat setelah mencium dan menghirup bau masakan yang asapnya masih mengepul, lalu mencicipi hidangan yang ia teteskan ke tangan kanannya, sambil sedikit menengadahkan kepala dan memejamkan kedua matanya dan memasukan kedua bibir ke dalam mulutnya, seolah-olah sedang merasakan sesuatu yang melenakan, membuat semua orang yang melihat peristiwa itu berhasrat ingin mencoba masakan yang selalu diceritakan nikmat dunia akhirat oleh para penebang pohon, bahkan semakin banyak yang mendaftar ingin jadi pekerja penebang pohon, tapi Bang Kongkong menolak semua permintaan mereka.
Walau demikian, pandangan masyarakat tentu saja berbeda-beda, dari yang jatuh hati hingga yang terlanjur membenci dan cemburu membanjiri hari-hari berat Bu Sukali yang akhir-akhir ini sudah merasakan pukulan, tendangan dan sundulan dari dalam perutnya.









